Minggu, 26 Februari 2012

Biarkan Masa Depan Datang Sensiri

"Te;ah pasti datangnya ketepan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datanganya)"
(QS. An-Nalh : 1)
Jangan perna mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya melahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? hari esok adalah sesuatu yang belum nayata dan dapat diraba, belum terwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri untuk hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita tidak tahu apakan kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?
Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam ghaib, dan belum turun ke bumi. Maka tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin juga jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai diatasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan menyeberanginya.
Dalam Syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan mebuka-buka alam ghaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah suatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk Thulul amal (Angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tidak masuk akal, karena sama hal nya dengan berusah perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia disunia ini justru banyak termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanya bahagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah-sekolah setan".
"Setan menjanjikan(menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia"
(QS. Al Baqarah : 268)
Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup dalam kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan mengandalkannya untuk sesuatu yang tidak ada. dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.
Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pila menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini kita sudah sangat sibuk.
Jika kita heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesediha suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan.
Wallahu A'lam...
Wassalam